Wisata Santai dan Kuliner Malam di Taman Bungkul. Akhir November 2025, Taman Bungkul kembali menjadi tempat pelarian favorit warga Surabaya ketika matahari terbenam. Taman kota seluas 900 meter persegi di jantung Darmo ini berubah wajah total setiap malam: lampu-lampu warna-warni menyala, ratusan pedagang kaki lima berjejer rapi, dan aroma sate, rawon, hingga es degan menguar di udara. Dari keluarga yang bawa tikar sampai anak muda yang datang untuk foto-foto, semua menemukan alasan sendiri untuk menikmati malam di sini. Gratis masuk, nyaman, dan selalu ramai, taman ini membuktikan bahwa wisata santai terbaik tidak harus jauh atau mahal. BERITA BOLA
Suasana Malam yang Selalu Hidup: Wisata Santai dan Kuliner Malam di Taman Bungkul
Begitu jam menunjukkan pukul enam sore, Taman Bungkul langsung berubah jadi panggung terbuka tanpa tiket. Area skatepark dipenuhi anak-anak muda yang pamer trik, jogging track ramai pelari dan pejalan kaki, sementara di tengah taman, anak-anak bermain di rumput sintetis yang empuk. Lampu sorot berwarna-warni menerangi pohon-pohon palem dan air mancur kecil, menciptakan vibe kota Eropa tapi tetap khas Surabaya. Setiap malam Jumat sampai Minggu, komunitas sepeda lipat, skateboard, hingga senam zumba bergantian mengisi ruang terbuka. Musik dari speaker portable pedagang dan tawa pengunjung bercampur jadi satu, membuat suasana terasa hangat meski angin malam mulai dingin.
Kuliner Malam yang Tak Pernah Membosankan: Wisata Santai dan Kuliner Malam di Taman Bungkul
Inilah alasan utama orang datang: makan malam di Taman Bungkul selalu murah dan enak. Ratusan pedagang berjejer di sisi selatan dan timur, mulai dari penjual seblak kekinian, sate taichan, hingga rawon setan yang legendaris. Ada juga es kacang ijo, es dawet, dan es degan jumbo yang selalu laku keras saat cuaca panas. Semua pedagang sudah terdata rapi oleh pemerintah kota, jadi kebersihan dan harga relatif terjaga. Satu porsi sate ayam lengkap dengan lontong cuma lima belas ribu, rawon seporsi sepuluh ribu, dan es degan cukup tujuh ribu. Banyak yang datang hanya untuk duduk di tikar plastik sambil ngobrol sampai tengah malam, menikmati makanan sambil menonton orang lewat.
Fasilitas dan Kenyamanan Pengunjung
Meski ramai, taman ini tetap nyaman karena fasilitasnya terus diperbarui. Wi-fi gratis kencang, toilet bersih yang buka sampai jam sebelas malam, dan puluhan tempat sampah di setiap sudut membuat pengunjung betah berlama-lama. Area parkir motor dan mobil juga luas, meski akhir pekan sering penuh. Pemerintah kota rutin menempatkan petugas keamanan dan cleaning service, sehingga taman tetap bersih meski dikunjungi ribuan orang setiap malam. Ada juga pojok baca mini dengan lampu khusus, spot foto berbentuk hati dan tulisan “I Love Surabaya”, serta charging station gratis yang selalu jadi penyelamat bagi anak muda yang kehabisan baterai.
Kesimpulan
Di tengah kota yang semakin tinggi dan bising, Taman Bungkul tetap menjadi ruang terbuka yang berhasil mempertahankan kehangatan khas Surabaya. Ia bukan sekadar taman, tapi tempat di mana orang bisa bernapas lega, makan enak dengan harga kantong pelajar, dan menikmati malam tanpa drama. Pada akhir 2025 ini, ketika semua orang butuh tempat untuk melepas penat, Taman Bungkul seperti mengulurkan tangan dan berkata, “Mampir sini dulu, makan sate, ngobrol sama teman, hidup masih baik-baik saja.” Dan itulah mengapa setiap malam, lampu-lampu di sini selalu menyala terang, siap menyambut siapa saja yang butuh sedikit kebahagiaan sederhana.